Upah - Pengertian, Komponen, Faktor Yang Mempengaruhi, Jenis-Jenis Teori, dan Sistem Upah di Indonesia
Upah merupakan uang balas jasa yang diberikan perusahaan / organisasi kepada karyawan setelah bekerja selama periode waktu tertentu. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan lengkap tentang pengertian, komponen, faktor yang mempengaruhi, jenis-jenis teori upah, dan sistem upah di Indonesia berikut ini.

Seorang pekerja biasanya akan mendapatkan upah dari pemberi kerja, sebagai imbalan atas pekerjaan yang dilakukannya. Ada banyak sekali sistem upah yang berlaku di Indonesia. Simak pembahasan lengkap tentang pengertian, komponen, faktor yang mempengaruhi, jenis-jenis teori upah, dan sistem upah di Indonesia berikut ini.

Pengertian Upah

Upah - Pengertian, Komponen, Faktor Yang Mempengaruhi, Jenis-Jenis Teori, dan Sistem Upah di Indonesia
Pengertian Upah

Upah merupakan uang balas jasa yang diberikan perusahaan / organisasi kepada karyawan setelah bekerja selama periode waktu tertentu. Menurut Dewan Penelitian Pengupahan Nasional, upah merupakan uang yang diberikan untuk menjamin kelangsungan hidup pekerja, yang besarnya sesuai dengan perjanjian antara pemberi kerja dan penerima kerja.

Sedangkan menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, upah adalah hak pekerja / imbalan yang diberikan dalam bentuk uang, yang diberikan oleh pemberi kerja kepada pekerja dan dibayarkan sesuai dengan perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan.

Komponen Upah

Upah - Pengertian, Komponen, Faktor Yang Mempengaruhi, Jenis-Jenis Teori, dan Sistem Upah di Indonesia
Komponen Upah

Adapun komponen upah tenaga kerja adalah sebagai berikut:

1. Upah Pokok

Upah pokok merupakan imbalan dasar yang diberikan kepada pekerja, yang besarnya disesuaikan dengan tingkatan atau jenis pekerjaan yang dilakukan (dengan kata lain, jumlahnya berdasarkan perjanjian kerja).

2. Fasilitas

Fasilitas merupakan hal-hal yang bersifat khusus yang diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja. Contoh fasilitas yang diberikan antara lain fasilitas antar jemput, dan lain sebagainya.

3. Bonus Kerja

Bonus kerja adalah bayaran tambahan yang diberikan kepada pekerja karena pekerja tersebut meraih prestasi atau karena perusahaan mendapatkan keuntungan.

Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Upah

Upah - Pengertian, Komponen, Faktor Yang Mempengaruhi, Jenis-Jenis Teori, dan Sistem Upah di Indonesia
Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Upah

Ada banyak sekali faktor yang bisa mempengaruhi besar kecilnya upah yang diterima oleh pekerja. Berikut ini adalah faktor-faktornya:

1. Penawaran dan permintaan karyawan

2. Organisasi buruh

3. Kemampuan pemberi kerja untuk membayar upah pekerja

4. Produktivitas pekerja

5. Biaya hidup

6. Peraturan pemerintah yang berhubungan dengan upah tenaga kerja.

Jenis-Jenis Teori Upah

Upah - Pengertian, Komponen, Faktor Yang Mempengaruhi, Jenis-Jenis Teori, dan Sistem Upah di Indonesia
Jenis-Jenis Teori Upah

Di bawah ini adalah beberapa teori mengenai upah tenaga kerja:

1. Teori Upah Alami (Natural Wage)

Teori upah alami seringkali disebut sebagai teori upah normal. Teori ini dicetuskan oleh David Ricardo. Menurut teori ini, upah dibagi menjadi dua jenis:

  • Upah Alami

Upah alami merupakan jenis upah yang besarnya dipengaruhi oleh tingkat permintaan dan penawaran tenaga kerja di pasar. Jenis upah ini digunakan sebagai pedoman agar pekerja bisa hidup dengan layak.

  • Upah Pasar

Upah pasar merupakan upah sesungguhnya yang sampai di tangan pekerja. Jika upah pasar lebih besar dari upah alami, para pekerja akan makmur. Angka perkawinan pun meningkat. Begitu juga dengan angka kelahiran. 

Akibatnya jumlah tenaga kerja meningkat sehingga penawaran tenaga kerja juga ikut meningkat. Pada akhirnya, hal ini akan menyebabkan upah pasar menjadi turun, nilainya bahkan bisa berada di bawah upah alami.

Ketika upah pasar menurun, angka perkawinan pun berkurang. Begitu juga dengan angka kelahiran dan jumlah penawaran tenaga kerja. Akibatnya nilai upah pasar kembali mengalami kenaikan.

2. Teori Upah Besi

Teori ini dicetuskan oleh Ferdinand Lasalle. Menurutnya, upah yang diterima pekerja merupakan upah minimal agar perusahaan bisa mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini bisa terjadi karena posisi pekerja yang lemah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan mau tak mau menerima upah minimal tersebut. Karena itulah, jenis upah ini disebut sebagai upah besi. Para pekerja disarankan untuk membuat koperasi produksi agar terlepas dari upah besi (upah minimal).

3. Teori Upah Produktivitas Batas Kerja

Orang yang mengemukakan teori ini adalah Clark. Ia mengatakan kalau tingkat upah biasanya sama dengan tingkat produktivitas yang dimiliki oleh tenaga kerja terakhir yang dibayar perusahaan. Dengan kata lain, upah yang diterima pekerja tidak mungkin melebihi tingkat produktivitas batas kerja. Teori ini sering disebut juga dengan istilah Marginal Productivity Theory.

4. Teori Upah Etika

Menurut teori ini, upah yang diterima pekerja harusnya seimbang dengan beban pekerjaan yang dilakukan pekerja sehingga pekerja bisa hidup dengan layak.

5. Teori Upah Diskriminasi

Menurut teori ini, upah yang diberikan kepada para pekerja sengaja dibeda-bedakan. Perbedaan upah ini terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

  • Jenis kelamin
  • Warna kulit
  • Tingkat pendidikan
  • Tingkat keahlian
  • Jenis pekerjaan

Baca Juga: Persekutuan Komanditer (CV) - Pengertian, Ciri, Tujuan, Unsur, Kelebihan, Kekurangan, dan Jenisnya.

Sistem Upah di Indonesia

Upah - Pengertian, Komponen, Faktor Yang Mempengaruhi, Jenis-Jenis Teori, dan Sistem Upah di Indonesia
Sistem Upah di Indonesia

Sistem upah yang berlaku di Indonesia dikelompokkan menjadi beberapa jenis:

1. Sistem Upah Menurut Waktu

Upah dibayarkan berdasarkan waktu kerja karyawan, misalnya perjam, perhari, perminggu atau perbulan.

2. Sistem Upah Borong

Sistem upah borong biasanya digunakan untuk suatu jenis pekerjaan yang dipaketkan / diborongkan. Kelebihan dari sistem upah ini adalah pekerja sudah tahu pasti berapa jumlah upah yang akan ia terima, dan majikan tidak perlu berinteraksi langsung dengan pekerja.

3. Sistem Co-Partnership

Sistem upah ini tidak memberikan upah kepada pekerjanya dalam bentuk gaji. Sebagai gantinya, pengusaha memberikan saham atau obligasi perusahaan kepada para pekerjanya.

4. Sistem Bagi Hasil

Contoh dari sistem bagi hasil bisa kamu lihat pada supir angkot. Setiap hari, mereka sibuk mengejar setoran. Nantinya setoran tersebut akan diberikan kepada pemilik angkot. Semakin banyak jumlah setorannya, semakin banyak pula jumlah upah yang diterima supir angkot. Dengan kata lain, sistem ini mengandalkan kerja keras pekerja.

5. Sistem Upah Premi

Sistem upah premi merupakan sistem upah berdasarkan prestasi ditambah dengan premi. Contoh: jika pekerja A bisa menyelesaikan 200 potong kain dalam waktu satu jam, ia akan mendapat 8000 rupiah. Jika lebih dari 200 potong kain, pekerja A akan mendapat tambahan premi. Ternyata pekerja A berhasil menyelesaikan 210 potong kain maka ia mendapat upah sebesar 8000 + (10/200 x 8000) = 8400 rupiah.

6. Sistem Upah Berkala

Besarnya upah ditentukan berdasarkan hasil penjualan. Jika penjualan meningkat, maka jumlah upah yang diterima pekerja juga meningkat. Begitu juga dengan sebaliknya.

7. Sistem Bonus

Biasanya bonus tambahan akan diberikan bila pekerja ikut berpartisipasi dalam memajukan perusahaan.

Baca Juga