Sumber Astronomi Menurut Islam
Pencapaian dan usaha yang dilakukan oleh tokoh astronomi Islam adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Walau bagaimanapun dalam Islam, mengkaitkan kejadian dan rahasia alam semesta dengan keesaan dan kebesaran Allah adalah lebih penting.

Bagi orang Islam sumber ilmu yang paling unggul adalah al-Qur’an. Walaupun al-Qur’an bukan sebuah buku astronomi tetapi terdapat banyak fakta astronomi di dalamnya yang dapat menjadi pencetus aktivitas astronomi. Al-Qur’an menggalakkan penganut Islam memahami ciptaan alam agar orang merasakan kebesaran Allah. Al-Qur’an memerintahkan orang Islam untuk memperhatikan dan memikirkan tentang penciptaan dunia. Oleh karena itu, Al-Qur'an adalah tuntunan agama, maka ia menjadi amal ibadah dan menjadi gaya penggerak yang begitu berpengaruh. 

Sumber Astronomi Menurut Islam
Al-Qur'an

Pengetahuan yang ada pada orang Arab sebelum Islam menjadi dasar untuk membina astronomi Islam. Ketika itu, mereka telah memahami sedikit tentang ilmu bintang ini. Pada peringkat awal astronomi Islam, karya astronomi yang dihasilkan oleh kemajuan Parsi telah ditetjemahkan. Zij-i Syahi atau Zij-i Syahbriyari, sebuah buku astronomi yang dihasilkan kurang lebih pada tahun 555M, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abu al-Hassan al-Tamimi dan ulasannya dibuat oleh Abu Ma’syar. 

Astronomi India juga dipelajari. Pada tahun 155 H / 771M, seorang perwakilan dari India telah datang ke Baghdad untuk mengajar astronomi India dan menolong menterjemahkan buku-buku ke bahasa Arab. Dua tahun kemudian Zij oleb al-Farazi telah diterbitkan dan kandungan buku ini dikatakan berdasarkan kandungan buku Sidhanta Brahmagupta. Ya'qub bin Tariq, seorang ahli astronomi yang berguru kepada seorang pendeta India, turut memainkan peranan dalam membawa pengaruh astronomi India ke dalam ilmu falak Islam. Sidhanta Aryabatha juga menjadi panduan ahli astronomi pada masa itu. Sidhanta terus menjadi rujukan hingga ke zaman al-Ma’mun. 

Pada zaman pemerintahan al-Ma’mun, penterjemah teks astronomi dari Yunani telah dibentuk dengan sungguh-sungguh. Buku-buku tersebut kemudian menjadi rujukan astronomi, menggantikan karya-karya Parsi dan India. Hasil kerja Ptolemy (Batlamus) telah diterjemahkan beberapa kali dan diberi judul al-Majisti. Beberapa abad kemudian al-Majisti telah dialih-bahasa ke dalam bahasa Inggris dengan judul Almagest. Teks lain seperti Tetrabilbos dan tabel astronomi yang dihasilkan oleh Batlamus, Cannones procheiroi, juga telah diterjemahkan. 

Sumber Astronomi Menurut Islam
Ptolemy

Dengan adanya buku-buku terjemahan, maka dasar untuk mengembangkan astronomi telah disediakan. Abad ke-3H/ 9M, telah lahir ahli-ahli astronomi Islam yang begitu unggul dan membanggakan masyarakat Islam. 

Astronomi di dalam Al-Qur'an 

Sumber Astronomi Menurut Islam

Al-Qur'an

Di dalam al-Qur'an terdapat beberapa ayat mengenai alam semesta supaya manusia memikirkan mengenai fakta yang dinyatakan. Al-Qur'an menyatakan bahwa segala ciptaan Allah, seperti ayat-ayat al-Qur'an, jika diteliti dengan sedalam-dalamnya akan membawa kepada pengakuan bahwa Allah itu adalah Pencipta yang Maha Bijaksana. Malah al-Qur'an juga menyatakan beberapa fenomena yang baru ditemui dalam abad ini, membuktikan keunggulannya sebagai kitab petunjuk yang tak lapuk di makan zaman. 

Al-Qur'an menyatakan bulan sebagai munir (cahaya) dan matahari sebagai siraj (obor). Inilah gambaran yang tepat karena bulan berfungsi sebagai pemantul cahaya sedangkan matahari memang seperti obor, karena matahari mengeluarkan cahaya, kalor dan lain-lain dengan membakar massanya sendiri melalui reaksi nuklir. (Surah al-Furqan 25:71 dan Surah Nuh 71:15)

Dalam mengesahkan pergantian siang dan malam, al-Qur’an telah menggunakan perkataan “kawwara” yang asalnya berarti membelit sorban. Walaupun proses pergantian itu biasa diartikan malam memasuki siang dan sebaliknya, tetapi nyatalah bahwa al-Qur'an telah mengatakan fenomena ini adalah hasil dari lilitan atau putaran. (Surah al-Zumar 39:5). 

Ahli astronomi sekarang mengaku bahwa galaksi bergerak menjauh satu sama lain. Kadangkala ini disebut sebagai universe yang mengembang. Ini telah dinyatakan di dalam al-Qur'an (Surah al-Dhariyat 51 : 47) bahwa Allah telah membina alam dan mengembangkannya. 

Sumber Astronomi Menurut Islam
Galaxy

Saat ini teori yang dianggap handal mengenai pembentukan alam ialah Teori Ledakan Besar (The Big Bang Theory). Teori ini menyatakan bahwa pada suatu masa dahulu semua zat berada pada suatu titik. Setelah terjadinya ledakan besar, zat tersebut berserakan dan ketika keadaan menjadi normal, bintang-bintang dan planet pun mulai terbentuk. Pernyataan bahwa langit dan bumi adalah berasal dari satu jasad yang kemudian dipisahkan ada dinyatakan di dalam ayat 30 Surah al-Anbiya. 

Al-Qur'an membedakan bintang dengan planet. Perkataan "najm" untuk bintang dan "kawkab" atau "kawakib" untuk planet yang peredarannya di dalam satu orbit (Surah al-Anbiya 21:33). Biasanya perkataan "najm" diikuti dengan penerangnya seperti "taqib" untuk menyatakan bintang yang berlainan jenis. Dinyatakan juga didalam Al-Qur'an bahwa pada akhir zaman, "kawakib" akan terlepas dari orbitnya dan berserakan (Surah al-Fajr 89: 1-3). Kehadiran benda selain bumi, planet dan bintang juga dinyatakan di dalam al-Qur'an. (Surah al-Furqan 25: 59). 

Sumber Astronomi Menurut Islam
Bumi

Terdapat juga ayat-ayat yang memberi arti bahwa cakrawala melalui proses evolusi dan mempunyai unsur umur yang ditetapkan. Pada abad ini, manusia telah memahami bahwa bintang pada akhirnya musnah dengan berbagai cara, ada bintang yang menjadi semakin redup. Ini bertepatan dengan perkara yang dijanjikan oleh Allah di dalam al-Qur'an (Surah al-Ra'd 13 : 2, Surah Luqman 31 : 19, Surah Fatir 35 : 13 dan Surah al-Mursalat 77 : 8). 

Baca juga : Pengertian Ilmu Astronomi Menurut Perspektif Islam

Perkara yang harus difahami disini ialah ayat-ayat yang berkaitan dengan astronomi yang senantiasa benar dan akan terus demikian. Al-Qur'an bukanlah sebuah buku astronomi, tetapi di dalamnya terkandung beberapa fakta astronomi yang menunjukkan kenyataan al-Qur'an adalah benar. Yang lebih penting lagi ialah harus kita akui bahwa al-Qur'an tidak mungkin buatan manusia, al-Qur'an satu "expresi wahyu" yang mestilah diberi tempat yang istimewa. Ini telah dirumuskan oleh Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya Qur’an, Bible and Modern Science. Yang lebih penting daripada itu bagi orang Islam ialah mengakui bahwa Allah adalah Pencipta seluruh alam dan telah menunjukkan tanda kebesaran-Nya melalui alam semesta ini supaya manusia percaya kepada-Nya dan mematuhi segala perintah dan undang-undang yang telah diberikan. 

Dan itulah sekilas pembahasan tentang sumber astronomi menurut islam. Semoga pembahasan di atas dapat dijadikan sebagai pelengkap beberapa mata pelajaran di sekolah kalian.

Baca Juga

Tinggalkan Komentar jika anda pernah kesini:

Tidak ada review,jadilah yang pertama.