Sejarah  Perkembangan Ilmu Astronomi
Tokoh astronomi telah memelihara dan mengembangkan ilmu tersebut selama kurang lebih tujuh abad. Tanpa usaha mereka, ilmu itu mungkin terhapus atau tidak berkembang pesat seperti sekarang ini.

Pada akhir abad ke-7H/8M, aktiviti astronomi berpusat di Baghdad. Pekerjaan dilakukan berdasarkan tabel-tabel astronomi Parsi dan India. 

Abad ke-3H/9M, telah lahir tokoh-tokoh astronomi yang paling unggul. Pada zaman pemerintahan al-Ma'mun, penterjemahan buku dan tabel astronomi Yunani telah dilakukan. 

Kronologi Perkembangan Astronomi
Habasy al-Hasib

Pada awal abad ini, tokoh yang paling terkenal adalah Habasy al-Hasib dan al-Khwarizmi, Al-Habasy telah mengeluarkan tabel-tabel al-Ma’mun, sedangkan peninggalan al-Khwarizmi adalah tabel-tabel astronomi yang dianggap penting, di samping karya matematika yang tiada bandingnya. Al-Farghani, tokoh dalam era al-Ma’mun, adalah penulis sebuah buku astronomi yang masyhur yaitu unsur-unsur astronomi. 

Kronologi Perkembangan Astronomi
al-Khwarizmi
Kronologi Perkembangan Astronomi
Patung Al-Farghani

Pertengahan abad ke-3H / 9M, dipenuhi dengan aktiviti astronomi yang lebih gigih. Al-Nairizi membuat komentar terhadap al-Majisti. Dia juga menulis streatis yang paling terperinci mengenai 'astrolab sfera”. Thabit bin Qurrah juga memainkan peranannya dengan menterjemahkan karya astronomi Yunani dan berpegang teguh dengan teori bahwa equinoks adalah suatu yang berayun.

Kronologi Perkembangan Astronomi
Al-Nairizi

Seorang lagi tokoh astronomi masa ini ialah al-Battani yang dianggap oleh sebagian orang sebagai ahli astronomi Islam yang terunggul. Beliau menurut jejak langkah Thabit, Al-Battani telah membuat penelitian yang sungguh jitu di dalam sejarah astronomi Islam. Dia menemukan bahwa apogi matahati sudah meningkat jika dibandingkan dengan nilai pada zaman Batlamus. Ini telah mendorong al Battani menemui gerakan 'apsid matahari'. Al-Battani menentukan bahwa liukan tahunan bumi adalah 54.5 dan sudut ‘ecliptik’ adalah 23 derajat 35. Dia juga menemukan cara baru untuk membuat penyelidnkan yang terperinci tentang gerhana bulan dan matahari. Hasil penyelidikan ini masih digunakan sebagai rujukan hingga abad ke-18M. 

Kronologi Perkembangan Astronomi
Thabit bin Qurrah

Abad ke-4H/10M telah menonjolkan tokoh seperti Abu Sahl al-Kuhi, Abd al-Rahman al-Sufi, Abu Said al-Sijzi, Abu al-Wafa al-Buzjani dan Abu al-Qasim al-Majriti. Abd al-Rahman al-Sufi telah menghasilkan gambar-gambar bintang, yang di anggap oleh G. Sarton sebagai satu “masterpiece” dalam sejarah astronomi. Buku yang mengandung peta bintang ini, telah tersebar luas ke dunia timur dan Barat. Abu Said al-Sijzi iuga terkenal dengan ciptaan 'astrolab' yang berdasarkan pengandaian bumi mengelilingi matahari. Abu al-Wafa al-Buzjani, tokoh yang lebih terkenal karena matematikanya, juga adalah seorang yang berkemampuan tinggi dalam bidang astronomi. Dia menulis versi ringkas buku al-Majisti dan membahas tentang bagian kedua “eveksi bulan”. Abu al-Qasim juga menandai kemunculan tokoh sains Andalusia (Sepanyol). Dia juga seorang ahli alkemi (kimia) yang terkenal. Beliau mengulas tabel-tabel al-Khwarizmi dan karya-karya Batlamus (Ptolemy). 

Abad ke-5H/11M, menjelaskan kecemerlangan beberapa tokoh astronomi seperti al-Biruni, Ibn Yunus dan al-Zarqali. 

Al-Biruni telah menentukan latitud dan longitud. Dia juga telah membuat banyak ukuran tentang bumi. Beberapa hitungan astronomi telah dilakukan oleh al-Biruni. Kesemuanya ini meletakkannya sebagai salah seorang ahli astronomi yang terunggul. Ketika berada di India, dia telah menghitung nilai putaran bumi berdasarkan ketinggian sebuah gunung, satu dataran dan ufuk laut. 

Ibn Yunus, seorang ahli falak yang menjalankan penelitiannya di Kairo, telah menyempurnakan tabelnya yang berjudul Zij (Tabel Hakimi) pada tahun 397H. / 1007M. Tabel yang mengandung nilai-nilai yang diukur kembali ini adalah antara tabel-tabel yang paling tepat, yang dihasilkan pada zaman itu. Dia juga seorang ahli matematika yang mahir dalam bidang geometri sfera (lingkaran) yang menggunakan unjuran ortogan. 

Al-Zarqali adalah seorang ahli astronomi yang berketurunan Sepanyol. Dia menciptakan alat astronomi yang dikenal dengan nama sahifah. Mungkin sumbangannya yang terpenting ialah penyuntingan Zij Toledo yang merupakan hasil kerjasama beberapa orang ahli sains Islam dan Yahudi. Tabel ini digunakan dengan begitu meluas oleh ahli astronomi Latin dan Islam hingga beberapa abad kemudian. 

Ahli astronomi pada abad ke-6H / 12M, banyak melakukan kritik terhadap sistem yang ditemukan oleh Batlamus. Jabir lbn Aflah (Geber) yang telah mengkritik sistem planet Batlamus. Sistem baru yang dikemukakan oleh Ibn Tufail yang kemudian dikembangkan oleh muridnya yang bernama al-Bitruji dalam abad ke-7M/ 13M. Ketidakpuasan terhadap karya Batlamus telah mendorong al-Khazani menerbitkan Sanjari Zij. 

Pada abad ke-6H aktivitas penelitian sudah mulai dilakukan di Maragha telah berhasil mengeluarkan Ilkhanid Zij pada abad ke-7H/13M. Al-Tusi telah mengemukakan model planet yang baru dan teori ini didalami oleh muridnya yang bernama Qutb al-Din al-Shirazi. Setelah itu Ibn al-Shatir pada abad ke-8H/14M, memperbaiki model tersebut dan menambahkan dengan sistem bulan. Teori bulan yang dimajukan oleh Copernicus 200 tahun kemudian adalah sama seperti yang dikemukakan oleh Ibn al-Shatir. 

Tradisi melakukan penelitian astronomi dan percobaan untuk memperbaiki teori yang ada terus dilakukan di Maragha oleh murid-murid al-Tusi. Tradisi yang sama juga diteruskan oleh kelompok ahli falak yang berpusat di Samarqand yang didirikan oleh Ulugh Beg (1393-1449M). Di bawah kepemimpinan Ulugh Beg, kelompok Samarqand berhasil mengeluarkan katalog bintang yang baru. Tabel peredaran planet juga telah dikeluarkan. 

Baca juga : Sejarah Pangeran Diponegoro

Tidak lengkap, jika membicarakan tokoh astronomi Islam tanpa menonjolkan keutuhan akhlak tokoh-tokoh tersebut. Mereka mempunyai ketinggian nilai akhlak: Mereka adalah orang yang mempraktikkan Islam dan mempunyai dedikasi terhadap pekerjaan mereka. Mereka tidak memisahkan antara agama dan profesi mereka, malah mereka yakin bahwa kerja mereka adalah ibadah. Mereka tidak sombong dan senantiasa mengingat Allah dalam kerja mereka. 

Al-Biruni pernah menyatakan bahwa seorang peneliti atau penyelidik mestilah senantiasa mengawasi kerjanya, berani mengkritik diri sendiri, tidak memuji diri dan terus berusaha dengan penuh kesabaran tanpa merasa jemu. 

Al Haytham ketika merumuskan karyanya yang dianggap oleh kebanyakan ahli sejarah sebagai satu pencapaian yang sangat unggul menekankan, bahwa apa yang diketahuinya tertulis di dalam buku itu, dan dia mengakui pengetahuannya yang terbatas dan mungkin buku itu mengandung kesalahan dan Allah saja yang maha mengetahui. 

Dan itulah sejarah singkat tentang kronologi perkembangan astronomi yang mungkin bisa melengkapi pelajaran di sekolahmu.

Loading...

Baca Juga