Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya
Sebagai studi ilmu yang mempelajari tentang manusia--baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya, antropologi sangat penting untuk dipelajari siapa saja. Untuk itu, sila pahami apa itu antropologi di sini!

Antropologi bertujuan untuk lebih memahami dan mengapresiasi manusia sebagai entitas biologis homo sapiens dan makhluk sosial dalam kerangka kerja yang interdisipliner dan komprehensif. Oleh karena itu, antropologi menggunakan teori evolusi biologi dalam memberikan arti dan fakta sejarah dalam menjelaskan perjalanan umat manusia di bumi sejak awal kemunculannya. Antropologi juga menggunakan kajian lintas-budaya (Inggris: cross-cultural) dalam menekankan dan menjelaskan perbedaan antara kelompok-kelompok manusia dalam perspektif material budaya, perilaku sosial, bahasa, dan pandangan hidup (worldview).

Sila pahami lebih lanjut apa itu antropologi di bawah ini:

Pengertian Antropologi

Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya
Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya

Sebelum mengenal lebih jauh apa itu disiplin ilmu antropologi, maka lebih baik dipahami dulu asal usul dari kata antropologi itu sendiri. Kata antropologi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia, dan logos artinya berbicara atau ilmu. Dengan demikian antropologi secara sederhana dapat didefenisikan sebagai ilmu tentang manusia.

Sebagai suatu ilmu pengetahuan, banyak ahli memberikan pengertian tentang antropologi. Seorang antropolog Amerika Serikat, yakni William A Haviland mengartikan antropologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Sedangkan Koentjaraningrat (alm), sebagai antropolog dan salah seorang pendiri antropologi di Indonesia, mengartikan antropologi sebagai ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik  masyarakat, serta kebudayaan  yang dihasilkan. Pengertian antropologi dari kedua ahli antropologi dan antropolog tersebut pada dasarnya sama. Mereka menekankan bahwa antropologi adalah suatu disiplin ilmu pengetahuan yang ilmiah untuk memahami manusia, baik dari asal usul, fisik, keragaman, dan kebudayaan yang dimilikinya sebagai kolektivitas manusia.

Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya
Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya

Tentu bukan hanya antropologi semata yang mempelajari manusia. Banyak disiplin lain yang juga mempelajari manusia seperti halnya ilmu kedokteran, psikologi, ekonomi, sosiologi dan lain sebagainya. Namun, masing-masing memiliki penekanan atau kajian yang berbeda. Ilmu kedokteran mempelajari kesehatan masyarakat dari sudut pandang kedokteran modern, Psikologi mempelajari kepribadian manusia sebagai makhluk individu. Ekonomi juga mempelajari aspek ekonomi manusia dari sudut pandang ilmu ekonomi, dan sosiologi mempelajari interaksi antarmanusia. Sedangkan antropologi mempelajari aspek kesehatan, dan ekonomi dari sudut pandang kebudayaan yang dimiliki manusia tersebut. Manusia sebagai kolektivitas, dalam antropologi budaya, dipahami memiliki kebudayaan. Kepribadian yang dipahami antropologi adalah keperibadian manusia sebagai kolektiv.

Sebagaimana dikatakan Haviland (1988:11), antropologi memiliki tujuan bersama dengan ilmu alam dan ilmu sosial lainnya. Mereka tidak berpendapat bahwa kesimpulan mereka adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dengan kesimpulan ahli kedokteran, psikologi, ekonomi, dan sosiologi. Ahli antropologi justru berterima kasih atas saham yang diberikan oleh disiplin-disiplin lain tersebut kepada tujuan bersama mereka untuk memahami manusia. Mereka juga dengan senang hati menyediakan kesimpulan-kesimpulannya untuk keperluan disiplin-disiplin lain tersebut. Ahli antropologi tidak berharap mengetahui lebih banyak mengenai persepsi manusia tentang warna seperti ahli psikologi. Namun, sebagai ahli sinstesi mereka mempunyai dasar yang lebih baik untuk memahami kebiasaan pemberian nama kepada warna ketimbang ilmuwan yang lain. Ahli antropologi mempunyai kemampuan khusus untuk memperoleh pandangan umum yang luas tentang organisme biologis dan kultural yang disebut makhluk manusia. Sebagaimana pernyataan yakni: ahli sosiologi mempunyai responden, yang diwawancarainya dan yang diberikan kuesioner; ahli psikologi mempunyai orang-orang yang digunakan dalam eksperimen; sedangkan ahli antropologi mempunyai informan, dari siapa mereka belajar.

Baca Juga: Ideologi: Etimologi, Pengertian, Fungsi, Dimensi, dan Macam-macamnya

Fase-fase Perkembangan Antropologi

Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya
Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya

Antropologi tidaklah langsung jadi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang ilmiah. Sebagaimana pendapat Koentjaraningrat (2011:1) bahwa sebagai ilmu pengetahuan antropologi berkembang melalui 4 (empat) fase atau tahap. Fase pertama dimulai sebelum tahun 1800. Dengan kedatangan orang Eropa di benua Afrika, Asia, dan Amerika selama sekitar 4 abad sejak akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, suku-suku bangsa penduduk pribumi berbagai daerah di muka bumi mulai mendapat pengaruh negara-negara Eropa Barat. Bersamaan dengan itu terbit berbagai macam tulisan hasil buah tangan para musafir, pelaut, pendeta, pegawai agama Nasrani, penerjemah Kitab Injil, maupun para pegawai pemerintah jajahan, berupa buku-buku kisah perjalanan, laporan, dan lain-lain, yang jumlahnya sangat banyak. Dalam buku-buku tersebut dapat ditemukan sangat banyak bahan pengetahuan berupa deskripsi tentang adat-istiadat, susunan masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik serta beraneka-warna suku bangsa di Afrika, Asia, Oseania, maupun berbagai suku bangsa Indian. Karena sangat berbeda dengan keadaannya di Eropa, maka bahan deskripsi yang disebut “etnografi” (etnos berarti “bangsa” atau suku bangsa) itu sangat menarik bagi orang Eropa pada waktu itu. Namun demikian pelukisan-pelukisan yang dibuat pada zaman itu pada umumnya bersifat kabur dan tidak teliti, dan seringkali hanya memperhatikan hal-hal yang tampak aneh bagi mereka.

Berkenaan dengan bahan etnografi tersebut, di kalangan kaum terpelajar di Eropa Barat kemudian timbul 3 sikap yang bertentangan terhadap orang-orang Afrika, Asia, Oseania, dan Indian, yaitu: 1) anggapan bahwa orang-orang tersebut sebenarnya bukan manusia sungguh-sungguh, melainkan manusia liar keturunan iblis, dan lain-lain, sehingga timbul istilah-istilah savage dan primitive yang mengacu kepada bangsa-bangsa pribumi itu; 2) pandangan bahwa masyarakat-masyarakat pribumi tersebut merupakan contoh-contoh masyarakat yang masih murni, yang belum mengenal kejahatan seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bangsa Eropa Barat pada waktu itu; 3) pandangan bahwa “keanehan” bangsa-bangsa pribumi itu (adat-istiadatnya, maupun benda-benda kebudayaannya) dapat dimanfaatkan untuk dipercontohkan kepada khalayak ramai di Eropa Barat, sehingga timbul museum-museum yang menggelar benda-benda kebudayaan berbagai bangsa di luar Eropa.

Pada awal abad ke-19 perhatian para ilmuwan Eropa terhadap pengetahuan tentang masyarakat, adat-istiadat, serta ciri-ciri fisik bangsa-bangsa pribumi “asing” itu sangat besar, sehingga ada upaya untuk mengintegrasikan semua bahan pengetahuan etnografi yang ada menjadi satu.

Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya
Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya

Fase kedua, kira-kira pertengahan abad ke-19. Pengintegrasian bahan-bahan pengetahuan etnografi tersebut baru terlaksana pada pertengahan abad ke-19. Hal tersebut dapat dipahami dari terbitnya karangan-karangan yang bahannya tersusun berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat, yaitu: masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi secara lambat, yakni selama beberapa ribu tahun, dari tingkat-tingkat yang rendah, dan melalui beberapa tingkat antara sampai pada tingkat-tingkat yang tertinggi. Bentuk dari masyarakat dan kebudayaan manusia dari tingkat yang paling tinggi itu adalah seperti bentuk masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa Eropa Barat pada waktu itu. Selain masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa Eropa, semuanya mereka anggap “primitif” dan lebih rendah, dan merupakan sisa kebudayaan manusia purba. Berdasarkan cara berpikir itulah semua bangsa di dunia digolongkan menurut berbagai tingkat evolusi. Ketika sekitar tahun 1860 ada beberapa karangan yang mengklasifikasikan bahan-bahan mengenai berbagai kebudayaan di dunia dalam berbagai tingkat evolusi, maka lahirlah antropologi.

Berikutnya terbit karangan-karangan hasil penelitian mengenai sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa yang juga masih dianggap sebagai sisa-sisa kebudayaan manusia kuno. Dengan penelitian seperti itu orang berharap memperoleh pengetahuan dengan pengertian tentang sejarah penyebaran kebudayaan manusia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam fase kedua dari perkembangan antropologi, ilmu itu bersifat akademis dengan tujuan: mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud mendapatkan pengertian mengenai tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia di muka bumi.

Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya
Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya

Fase ketiga perkembangan antropologi yakni awal abad ke-20. Pada awal abad tersebut, sebagian besar negara penjajah di Eropa berhasil memantapkan kekuasaannya di daerah-daerah jajahan mereka. Sebagai ilmu yang mempelajari bangsa-bangsa bukan-Eropa, antropologi menjadi kian penting bagi bangsa-bangsa Eropa dalam menghadapi bangsa-bangsa yang mereka jajah. Di samping itu mulai ada anggapan bahwa mempelajari bangsa-bangsa bukan-Eropa itu makin penting karena masyarakat bangsa-bangsa itu pada umumnya belum sekompleks bangsa-bangsa Eropa, dan pengertian mengenai masyarakat yang tidak kompleks dapat menambah pengertian tentang masyarakat yang kompleks.

Antropologi saat itu terutama berkembang di suatu negara yang paling luas daerah jajahannya, yaitu Inggris, dan juga di hampir semua negara kolonial lainnya. Amerika Serikat yang bukan negara kolonial, tetapi yang telah mengalami berbagai masalah dengan penduduk pribuminya, yaitu suku-suku bangsa Indian, kemudian juga terpengaruh oleh ilmu yang baru itu. Dalam fase ketiga ini antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, yang tujuannya adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat pengertian tentang masyarakat modern yang bersifat kompleks.

Fase keempat, kira-kira sesudah tahun 1930. Dalam fase ini antropologi berkembang sangat luas, baik dalam hal ketelitian bahan pengetahuannya maupun ketajaman metode-metode ilmiahnya. Di samping itu, ketidaksenangan terhadap kolonialisme dan gejala makin berkurangnya bangsa-bangsa primitif (yakni bangsa-bangsa asli yang terkucil dari pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) setelah Perang Dunia II, menyebabkan bahwa antropologi kemudian seakan-akan kehilangan lapangan, dan terdorong untuk mengembangkan lapangan-lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang berbeda. Warisan dari fase-fase perkembangannya yang semula (fase pertama, kedua, dan ketiga), yang berupa bahan etnografi serta berbagai metode ilmiah, tentu tidak dibuang demikian saja, tetapi digunakan sebagai landasan bagi perkembangannya yang baru. Perkembangan itu terutama terjadi di universitas-universitas Amerika Serikat, dan setelah tahun 1951 menjadi umum di negara-negara lain, ketika 60 orang tokoh antropologi dari berbagai negara Amerika dan Eropa (termasuk tokoh-tokoh dari Uni Soviet pada waktu itu) mengadakan simposium internasional guna meninjau serta merumuskan pokok tujuan maupun ruang lingkup antropologi.

Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya
Pengertian Antropologi dan Fase Perkembangannya

Pokok atau sasaran penelitian para ahli antropologi sudah sejak tahun 1930 bukan lagi suku-suku bangsa primitif di luar Eropa, melainkan telah beralih kepada penduduk pedesaan pada umumnya, baik mengenai keanekaragaman  fisiknya, masyarakatnya, maupun kebudayaannya. Suku-suku bangsa di daerah pedesaan Eropa misalnya suku-suku bangsa Scami, Flam, Lapp, Albania, dan Irlandia, serta masyarakat Middletown, dan Jonesville di Amerika juga menjadi sasaran penelitian antropologi.

Antropologi dalam fase perkembangannya yang keempat ini mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan akademis dan tujuan praktis. Tujuan akademisnya adalah untuk mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari berbagai bentuk fisiknya, masyarakatnya, maupun kebudayaannya. Karena dalam kenyataan antropologi umumnya mempelajari masyarakat suku bangsa, maka tujuan praktisnya adalah mempelajari manusia dalam beragam masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa tersebut.

Baca Juga