Pengertian Kebudayaan dan Perbedaannya dengan Konsep Peradaban
Setiap masyarakat memiliki apa yang disebut dengan kebudayaan. Namun, konsep kebudayaan hanya sering didengar di dunia ilmiah atau di kalangan akademisi maupun yang berkenaan dengan hal tersebut. Untuk itu sila pahami apa itu kebudayaan di sini!

Bagi orang awam, mereka hanya lebih mengenal istilah adat. Walaupun berbeda pengertiannya, namun istilah kebudayaan dan adat bagi orang awam tersebut sesungguhnya menunjuk kepada pemahaman yang sama. Istilah kebudayaan yang dikenal di kalangan akademis menunjuk kepada pemahaman tentang adat di masyarakat.

Secara harafiah, jika dilihat dari asal kata, istilah kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yakni dari kata buddhayah (Koentjaraningrat, 2002:181). Lebih lanjut dijelaskan Kontjaraningrat bahwa kata buddhayah tersebut merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti “akal”. Berdasarkan hal tersebut maka ke-budaya-an dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Sarjana lain menjelaskan bahwa kata “budaya” sebagai perkembangan dari kata “budi” dan “daya” atau budi-daya yang berarti “daya dari budi”. “Budi” diartikan sebagai akal, sedangkan “daya” diartikan sebagai kemampuan. Dengan demikian, istilah ke-budaya-an juga berarti segala kemampuan akal manusia. Oleh karena itu, mereka membedakan “budaya” dengan “kebudayaan”. “Budaya” dipahami sebagai “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa, dan karsa, sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa tersebut. Namun dalam antropologi, khususnya antropologi budaya, perbedaan tersebut ditiadakan. Kata “budaya” dipakai sebagai singkatan dari kata “kebudayaan” dengan arti yang sama. Adapun kata kultur atau culture yang bersumber dari bahasa Inggris yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata Latin yakni colere yang berarti mengolah atau mengerjakan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam.

Pengertian Kebudayaan dan Perbedaannya dengan Konsep Peradaban
Kebudayaan di Afrika Selatan

Menurut E.B. Tylor (seorang tokoh klasik antropologi), sebagaimana yang dikutip oleh Lawang (1984), kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, tata cara dan kemampuan-kemampuan apa saja lainnya, kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Defenisi ini menjelaskan bahwa kebudayaan menunjuk kepada segala sesuatu yang dimiliki seorang individu dari dan sebagai anggota masyarakat.

Defenisi tersebut masih sangat luas artinya, dan seolah-olah individu sebagai anggota masyarakat hanya menerima begitu saja apa yang dimiliki masyarakat. Individu dalam hal ini memperoleh sesuatu apa yang sudah ada di dalam masyarakat. Semua elemen yang disebutkan Tylor dalam defenisinya tentang kebudayaan merupakan sesuatu yang sudah ada, sudah jadi, dan individu sebagai anggota masyarakat tinggal menerima saja semuanya. Dalam hal ini manusia sebagai makhluk yang pasif dan ditentukan oleh masyarakatnya atau kebudayaan yang dimiliki masyarakat tersebut. Sebagai contoh: sistem kepercayaan masyarakat atau suku bangsa Jawa yang mengharuskan untuk melaksanakan upacara adat pada saat seorang istri hamil tujuh bulan.

Pengertian Kebudayaan dan Perbedaannya dengan Konsep Peradaban
Kebudayaan di Pakistan

Mengutip Selo Soemarjan dan Soelaeman, Soekanto (2003:173) menegaskan  bahwa kebudayaan merupakan semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (budaya material) yang diperlukan manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. Sebagai contoh: suku bangsa di Papua yang membuat panah (busur dan anak panahnya) untuk keperluan berburu binatang untuk memenuhi kebutuhanakan makanan; masyarakat petani yang membuat cangkul dan alat-alat pertanian lainnya untuk mengolah lahan pertanian dalam rangka mata pencahariannya.

Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti luas. Termasuknya di dalamnya agama, ideologi, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat. Sebagai contoh pada suku bangsa Asmat di Papua dan suku bangsa Batak Toba yang mewujudkan ekspresi jiwa mereka dalam bentuk seni lukis, seni ukir dan seni lainnya sesuai dengan lingkungan alam dan sistem kepercayaannya terhadap alam tersebut.

Pengertian Kebudayaan dan Perbedaannya dengan Konsep Peradaban
Gorga, seni ukir Batak Toba

Sedangkan cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat, serta ilmu pengetahuan (Badrujaman, 2010:19). Cipta dapat berwujud teori murni, maupun yang telah disusun untuk langsung diamalkan dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh filsafat hidup suku bangsa Jawa yang mengharuskan untuk hidup tenteram maupun rukun dalam kehidupannya bermasyarakat.

Leslie White mendefenisikan kebudayaan sebagai suatu kumpulan gejala-gejala yang terorganisasi yang terdiri dari tindakan-tindakan (pola-pola perilaku), benda-benda (alat-alat atau benda-benda yang dibuat dengan ala-alat), ide-ide (kepercayaan dan pengetahuan), dan perasaan-perasaan (sikap-sikap, nilai-nilai) yang semuanya itu tergantung pada penggunaan simbol-simbol (Lawang, 1984). Lebih lanjut dijelaskan Lawang bahwa dari defenisi tersebut dapat dipahami kebudayaan tidak hanya mencerminkan kenyataan yang bersifat  objektif, kenyataan yang berada di luar individu dan memaksa individu untuk mengikutinya sebagaimana dipahami dari defenisi kebudayaan yang diuraikan oleh E.B. Tylor. Kebudayaan juga mencerminkan kenyataan yang bersifat subjektif yang dapat dilihat dari penggunaan simbol-simbol. Simbol adalah khas manusia yang mencerminkan usaha manusia untuk mengerti kenyataan sosial yang dihadapinya, dan membuatnya berarti untuk dia sendiri. Sebagai contoh seorang laki-laki dalam menyatakan cintanya kepada seorang wanita akan memberikan seikat kembang mawar. Kembang mawar ini adalah simbol yang digunakan sepasang muda-mudi dalam mengekpresikan perasaan cinta. Pengertian kebudayaan yang berkenaan dengan simbol-simbol juga dianut oleh beberapa ahli antropologi lainnya.

Pengertian Kebudayaan dan Perbedaannya dengan Konsep Peradaban
Mawar sebagai simbol mengekpresikan perasaan cinta

Seorang ahli dan pendiri antropologi di Indonesia, (alm) Koentjaraningrat, mendefenisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990; 2002:180). Menurut Lawang (1984) walaupun defenisi ini tidak menekankan penggunaan simbol, namun inti dari defenisinya sama dengan White yakni kebudayaan adalah produk manusia yang menjadi sesuatu yang ada di luar individu, dan yang harus dipelajarinya. Mempelajari kebudayaan sama dengan memasukkan atau mengendapkan kebudayaan (menginternalisasi) yang bersifat objektif itu ke dalam diri manusia (bersifat subjektif).

Defenisi Koentjaraningrat tersebut menegaskan bahwa kebudayaan merupakan sesuatu kenyataan yang bersifat objektif dan juga subjektif. Dalam hal ini, seorang individu tidak semata-mata makhluk yang pasif, tetapi juga makhluk yang aktif. Seorang individu sebagai anggota tidak semata-mata menerima kebudayaan yang telah ada begitu saja, namun ia menginternalisasikan kebudayaan tersebut di dalam diri dan menjadi miliknya, serta dengan anggota masyarakat lainnya ia juga dapat mengkonstruksi kebudayaan atau  merekonstruksi kebudayaannya.

Baca Juga: 6 Suku Dengan Biaya Pernikahan Termahal di Indonesia

Pengertian Kebudayaan dan Perbedaannya dengan Konsep Peradaban
Kebudayaan adalah sesuatu yang menyatukan banyak orang

Dari berbagai paparan di atas maka diketahui ada empat defenisi kebudayaan yang berlainan yang dapat dipergunakan untuk mengerti kebudayaan, walaupun masih banyak lagi defenisi kebudayaan yang dibuat oleh para ahli bidang ilmu humaniora maupun ilmu sosial. Perbedaan defenisi dimungkinkan oleh perbedaan sudut pandang, pemfokusan, dan cara mendefenisikan yang dilakukan para ahli tersebut. Walaupun demikian, dari perbedaaan tersebut dapat diketahui bahwa suatu kebudayaan dapat dipahami sebagai kebudayaan material dan kebudayaan imaterial (non material). Kebudayaan material merupakan hal yang konkret, dapat diobservasi dapat diraba. dapat difoto atau didokumentasi Sebagai contoh: panah, alat-alat memancing, alat-alat yang dipergunakan dalam pertanian, aktivitas-aktivitas manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat atau pemenuhan kebutuhan hidup, dan lain-lain. Kebudayaan imaterial merupakan hal yang abstrak, tidak dapat diobservasi, tidak dapat diraba, tidak dapat difoto atau didokumentasi. Sebagai contoh: ide-ide, gagasan-gagasan, nilai, norma, peraturan, dan lain-lain.

Pengertian kebudayaan berbeda dengan konsep peradaban. Bagi Koentjaraningrat (2002:182), dalam bahasa Inggris istilah peradaban sama dengan istilah civilization, yang biasanya dipakai untuk menyebut bagian-bagian dan unsur-unsur kebudayaan yang halus, maju, dan indah, seperti misalnya: kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, dan sebagainya. Istilah peradaban juga dapat dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, ilmu pengetahuan,  seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan dan masyarakat kota yang maju dan kompleks. Sebagai contoh: adanya istilah peradaban Romawi dan Yunani yang di dalamnya menunjuk aspek organisasi kenegaraan dan ilmu pengetahuan.

Loading...

Baca Juga